You Are What You Eat 

You Are What You Eat 

Kita adalah apa yang kita makan, mungkin pepetah ini pernah Anda dengar. Jangan pernah untuk mengartikan pepatah tersebut secara harfiah, bukan berarti Anda bila makan tempe akan memiliki mental tempe  atau pun memakan ayam akan menjadi seorang pengecut.

Maksud dari pepatah itu adalah apa yang kita makan secara kejiwaan. Karakter kita dibentuk oleh apa yang kita peroleh selama hidup. Pernahkah kita diajarkan untuk bersopan santun terhadap orang lain? semua orang pasti pernah diajarkan hal tersebut ketika kecil. Namun kenyataanya ada orang-orang yang bersikap “kurang ajar” yang kita temui, mereka berlaku seenaknya tanpa pernah menghiraukan orang lain.

Yup, pasti yang terpikir di dalam benak kita ketika melihat orang yang berkelakuan tidak sopan adalah “orang ini siapa yang mengajarkan sehingga bisa seperti ini” itu pasti muncul dengan melihat kelakuannya tersebut. Tapi perlu kita ketahui kenapa dia bisa seperti itu, mungkin ada saja alasan yang bisa menyebabkan orang tersebut bertindak kurang sopan.

Mungkin saja orang tersebut dibesarkan di pelosok yang jauh dari peradaban yang jarang berkomunikasi secara sosial, nah poin itu sebenarnya menjadi makanan dari kejiwaan kita. Kalau kita terbiasa berkehidupan sosial tentu kita bisa mengerti bagaimana harus berperilaku dan bersopan santun.

Sebenarnya makanan pokok untuk kita sudah diberikan kepada kita sejak kita kecil, semenjak kita masih anak-anak sudah diajarkan bagaimana harus bersikap, bagaimana harus berterima kasih, bagaimana harus menerima barang menggunakan tangan kanan, dan lain sebagainya.

Tapi hal itu hilang seiring dengan proses perjalanan hidup, ada orang-orang yang merasa untuk apa menghormati hidup bila hidup tidak menghormati kita? Pendapat-pendapat seperti itu yang salah. Orang yang seperti itu mulai memakan “semau gue” sebagai lauk makanan jiwanya. Hal tersebut menyebabkan mereka tidak menghargai orang lain.

Sebagian dari kita pasti berumur diatas 20 tahun, umur-umur yang matang yang mana bisa berpikir dengan jernih dan jelas. Seharusnya di usia seperti itu kita harus berpikir bahwa seseorang bertindak sepatutnya atau tidak, jangan memikirkan diri sendri dengan tindakan “semau gue” tadi. Kita juga harus memikirkan pendapat orang lain mengenai tindak-tanduk kita.

Kalau kita memberi makan diri kita dengan hal-hal yang positif dan kebaikan tingkah laku pasti akan baik juga penilaian orang lain terhadap diri kita. Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya agar selalu bersopan santun dan menghargai orang lain, bersikap menjaga lingkungan dan suka membantu sesama.

Semoga teman-teman juga seperti itu, jangan lelah memberi makan diri kita dengan kebajikan dan kebaikan agar senantiasa kita dikenal sebagai orang yang memiliki budi luhur.


Bagikan Post

Artikel Terkait

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar